Manusia Buas versus Binatang Buas

Isi alam semesta beragam, ada makhluk yang berkembang seperti pepohonan, ada makhluk yang dilengkapi akal saja seperti malaikat dan ada yang hanya dibekali nafsu saja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seperti binatang. Dari ketiga sifat tersebut, manusia di desain oleh tuhan secara sempurna memiliki katiganya. Rupanya Tuhan telah mempersiapkan sedemikian rupa agar manusia mampu berdikari menjadi khalifah yang mengemban amanah untuk memperbaiki tata kelola bumi dan isinya, termasuk sistem politik, budaya dan sistem perekonomiannya

Manusia dengan seperangkat akalnya mampu membedakan baik dan buruk, sedangkan binatang dengan segala sisi kekuatan nafsunya mendorong penggiat keinginannya, bila manusia mampu memfungsikan keduanya dengan baik bukan tidak mungkin derajatnya melebihi pangkat malaikat, karena malaikat hanya bisa mengerjakan sebatas kewajiban yang ditaklifkan kepadanya, sedangkan manusia mampu melakukan melebihi yang diwajibkan kepadanyan yakni menambahkan perintah yang bersifat anjuran (sunnah)

Manusia Buas versus Binatang Buas

Sebaliknya bila nafsu yang menjadi pandu hidupnya, sedang akal menjadi pengikut atas dorongan nafsunya, bukan tidak mungkin pula, derajatnya akan lebih rendah melebihi derajat binatang ternak (QS. 7:179), namun bagaimana faktanya? .

Dari sudut buas-nya, banyak fakta menunjukkan bahwa manusia lebih buas dari binatang jalang yang disemati predikat ‘buas’ itu sendiri, sering kita lihat di layar kaca televisi, sebuah kabar manusia ‘memangsa’ sesama manusia dengan berbagai cara, bila dihitung lebih banyak manusia yang menjadi korban manusia, daripada manusia yang dimangsa binatang buas. Abul A’la al-Maududi pernah mengatakan, yang intinya adalah, sebuas-buas binatang buas tidak akan pernah mengalahkan buasnya manusia.

Pola pembunuhan yang dilakukan bisa secara langsung atau tidak langsung. Pembunuhan langsung misalnya orang tua tega menghabisi anak yang lahir dari darah dagingnya sendiri, pun demikian sebaliknya, seorang anak membunuh orang tuanya. Tentunya tidak lepas terjadi pula kepada kerabat, teman sejawat, rekan kerja dan lain lain.

Adapun yang membunuh secara tidak langsung biasanya melalui mekanisme tertentu yang ujung-ujungnya adalah menindas orang lain dengan berbagai motif dan tujuan tertentu, entah karena situasi politik yang tidak menguntungkan, persaingan bisnis atau bisa juga karena sengketa waris dan sederet motif lain yang melatarbelakangi manusia bisa menjadi buas.

Rupanya untuk menjadi manusia baik, setiap individu harus meredam keinginan buruk dari dorongan nafsunya dan memfungsikan akalnya sesempurna mungkin untuk kemaslahatan orang lain. Dengan akal ini manusia bisa berbuat banyak yang lebih arif dan bijaksana dan berharga bak permata. Apalah artinya hidup ini bila tidak meninggalkan jejak baik.

M. Wiyono
Alumni Pesantren Al-Ishlah,
Bungah-Gresik-Jawa Timur
Tinggal dipinggiran Jakarta