Membentangkan Ujaran Kyai dan Cara Pelestariannya

EnM. Wiyonotah tulisan ini harus diawali dari sudut mana untuk membentangkan ujaran al maghfurlah KH. A. Maimun Adnan di sela-sela penjelasan pengajiannya kitab Minhajul Abidin karya al-Ghazali sore itu di tahun dulu (lali aku rekk), beliau mengatakan, “urip iku koyok ning dalan, yen ono sing pola bakal nggowo ciloko marang wong liyo”. Hidup ini seperti di jalan raya, apabila diantara sesama pengendara berulah akan mengakibatkan celaka bagi orang lain, sekali lagi lebih kurangnya seperti itulah yang saya ingat. Artinya hidup ini singkat bagaikan menyeberang jalan (‘abirin fis-sabil) menuju stasiun kehidupan berikutnya, harus dijalani dengan penuh manfaat dan tidak merugikan orang lain. Sudah mafhum semua, bahwa muatan ujaran singkat itu mengandung dua hadits sekaligus, yaitu hidup bagaikan menyeberang jalan (ka ‘abirin fis-sabil) dan hadits tentang manfaat untuk sesama (anfa’uhum lin-nas).

Dengan alat bantu dua hadits tersebut, misteri maknanya tersibak secara perlahan, bahwa ujaran Yai Mun–begitu panggilan populernya–di atas penuh hikmah. Hidup ini bagai pengendara di jalan raya, beragam kendaraan dan tujuan, ulah sebagian pengendara akan ber-efek domino mencelakakn pengendara lain. Sebut saja seorang pencuri, dia beruntung bisa mencuri tetapi di lain pihak orang yang kecurian menderita kerugian, kecurian adalah sebuah kecelakaan. Dalam konteks santri, bisa jadi santri merasa nyaman dan sengaja melepaskan diri dari pengawasan pesantren, tetapi bagi orang tua adalah kecelakaan besar sebagai donatur tunggal pembiayaan elajarnya, begitupula kerugian bagi guru karena upayanya tidak berhasil secara maksimal akibat ulah si santri. Dua kasus di atas cukuplah kirangan mewakili argumen pembenaran ujaran di atas.

Sebenarnya ujaran Romo Yai Mun bila diresapi mendalam akan menghasilkan hikmah yang sangat luar biasa, Hikmah dalam arti dapat dijadikan sebagai hujjah bagi santri dalam menapaki jalan hidupmya sepulang dari pesantren dan terjun ke kancah masyarakat sosial, hikmah yang demikian ini sejalan dengan hikmah pemahaman Imam Nawawi al-Jawi, yang memaknai hikmaj sebagai hujjah.

Wahbah Zuhaili memberikan arti hikmah, perkataan yang jelas dengan dalil terang yang mengantarkan kebenaran dan menyingkap keraguan. Ujaran di atas tentu mengandung unsur kebenaran dan menyingkap keraguan santri yang hendak berulah sekehendak nafsunya, sak-enak’e udele dewe, tanpa mempertimbangkan betapa singkatnya waktu nyantri dengan tuntutan penguasaan ranah pengetahuan agama yang luasnya tak bertepi, belum lagi kehadirannya telah dinanti di masyarakat. Maka uajaran singkat Yai Maimun ini menjadi arti tersendiri dan mampu mengilhami bagi semua komunikan yangmendengarnya. Bahwa ulah tak wajar akan mendatangkan celaka bagi orang lain.

Bila dikaitkan dengan pendapat Imam Syafi’i, maka ujaran di atas menekankan ide dakwah bil lisan sebagai pengamalan ajaran saling berpesan kebaikan untuk mencapai jalan keselamatan bersama sesuai harapan agama, karena pada dasarnya manusia dalam posisi yang sama sebagai pengendara di jalan raya kehidupan, maka saling berpesan kebaikan menjadi keniscayaan yang tak terbantahkan untuk mencapai keselamatan. Imam Syafii berpendapat, seandainya ayat al Qur’an yang lain tidak ada, maka untuk menyelamatkan dunia ini cukup dengan surat al-‘ashr, dimana penghujung suratnya perintah saling berpesan yang baik dan sabar

***

KH. Ahmad Maimun Adnan yang kita kenal adalah sosok ulama’ panutan di Gresik pada waktu itu, dengan penampilan sederhana dan ilmu keagamaan yang mendalam lengkap dengan penguasaan pranata bahasa arab yang tak diragukan lagi. Namun sayang sekali, sependek pengetahuan penulis, di tengah sibuknya mengurus santri dan ummat pada saat itu, hingga tak cukup banyak waktu untuk menulis sebuah buku, selain beberapa risalah do’a yaumiyah dan istighosah yang lestari hingga saat ini.

Tujuan utama tulisan ini, adalah menggugah para santri dan alumni untuk bersama-sama berbagi ujaran dan nasehat beliau yang penulis asumsikan bisa memberi warna sebagai tali kendali terhadap masyarakat, minimal keluarga dan kerabat terdekat, yang kian lama kian tenggelam dalam krisis moral di bawah bendera modernitas dan liberalisme yang cenderung kebablasan. Tentu kita setuju kehadiran dua ‘makhluk baru’ yang bernama modern dan liberal ini, selama dalam koridor pemahaman agama yang benar menurut para ‘alim ulama’ terdahulu dan berkesesuaian dengan Al Qur’an dan Sunnah, Ijma’ Qiyas dan lain-lain. Meskipun interpretasinya memerlukan perwajahan baru. Pendek kata, kita harus melakukan aktualisasi dan interpretasi penjabaran pada guru dan ulama’ khususnya Romo Yai Maimun sebagai salah satu upaya kita untuk melestarikan ajaran dan wejangannya yang sarat akan nilai-nilai luhur.