Menjaga keharmonisan dalam keberagaman

Saat ini untuk menjaga agar kehidupan kita di linkungan sekitar tempat tinggal kita tetap harmonis dalam keberagaman merupakan hal yang cukup sulit, terutama dengan semakin berkembangnya penggunaan dan efek balik dari sosial media. Salah satu contoh kehidupan yang bisa kita ambil pelajaran dan telah dilakukan oleh KH. Ahmad Maimun Adnan selama hidup bersama dalam lingkungan yang beragam, bagaimana Kyai Mun mampu menciptakan suasana harmonis dan juga menjaganya seumur hidup beliau.

Menjaga keharmonisan dalam keberagaman - AlIshlah.com

Sejak lama masyarakat bungah khususnya sampurnan dikenal sebagai lingkungan agamis, di sampurnan ini kehidupan beragama dipengaruhi dua lembaga keagamaan yang besar yaitu NU dan Muhammadiyah, sudah kita ketahui semua bahwa kedua organisasi ini mempunyai perbedaan pandang dalam beberapa hal contohnya masalah perbedaan perlakuan kepada orang meninggal dan sebangsanya. Hal ini sering kali membuat orang yang berbeda pandang saling sindir dan akhirnya saling tidak suka yang efeknya akan merambat kepada suasana harmonisasi di lingkungan sekitar.

KH. Ahmad Maimun Adnan telah memberikan contoh kepada kita semua khususnya santri beliau, yaitu bagaimana menjaga keharmonisan ini melalui tidakan beliau. Pada saat awal hidup menetap di Bungah beliau menempati satu rumah dengan seorang tokoh Muhammadiyah yaitu KH. Kholid (tokoh sekaligus pendiri MI Assaadah Muhammadiyah (MIAS)). Meskipun berbeda, keduanya bisa hidup rukun dan saling menghormati dalam satu rumah. Bahkan keduanya berbagi tempat dalam menerima tamu serta mengajar ngaji.

Kyai Mun sendiri dalam berdakwah keluar bungah sering memakai sepeda ontel milik KH Kholid. Hal ini berjalan cukup lama sampai Kyai mun pindah rumah ke pondok selatan. Perpindahan ini bukan dikarenakan pertentangan atau perbedaan dalam pandangan agama tetapi karena sudah menjadi kebutuhan dalam kebutuhan rumah tangga beliau selanjutnya.

Selama hidup di pondok selatan, Kyai Mun masih tetap bersentuhan dengan Muhammadiyah karena memang penduduk sekitarnya banyak yang Muhammadiyah. Hubungan beliau dengan lingkungan Muhammadiyah sangat akrab, sehingga beliau sering diundang cerama di masyarakat Muhammadiyah termasuk salah satunya pernah diundang cerama acara halal bihalal di pak Hasyim (salah satu tokoh Muhammadiyah Bungah). Bahkan beliau juga mensholati dan baca do’a ketika salah satu tokoh Muhammadiyah meninggal dunia yaitu mbah Toha.

Demikianlah satu contoh yang telah diberikan oleh Kyai Mun tidak saja melewati ucapan tetapi langsung ke rana penerapan tindakan. Beliau tidak mempermasalahkan perbedaan tersebut dan beliau selalu bilang kalau Muhammadiyah itu “konco dewe” atau “konco-konco”. Semoga bermanfaat. (cerita ini diambil dari buku biografi Kyai Ahmad Maimun Adnan)