Pesona al Ishlah dalam Menempa Santri Mandiri

Tulisan ini agak-agak ‘bau’ melow (bc. Melankolis) kata anak muda sekarang.., saya ingin berkisah dan meyakinkan pembaca bahwa terhimpun banyak kenangan yang telah terukir di Pondok Pesantren al-Ishlah, entah berapa tahun ditempa di sana, setelah kian rentang waktu menjauh manfaat dan hikmah lika-liku kehidupan pesantren sangat bermanfaat dalam dunia nyata, dari gaya hidupnya yang sederhana, disiplin, kreatif, inovatif, tanggung jawab serta kebebasan berkreasi di al-Ishlah sangat luar biasa.

Pesona al Ishlah dalam Menempa Santri Mandiri

Semua santri tidak hanya tenggelam dalam lautan sufi dalam makna lampau, yang menjauhkan diri dari hiruk-pikuknya kerja, tetapi di penjara suci benar benar menerapkan sufisme modern, bekerja adalah sebuah ibadah dan bersinggungan dengan pasar tak boleh mengubah atau merontokkan bangunan akidah, wal hasil sebagian santri pergi ke pasar untuk bekerja, ada yang berkarya layaknya seniman ulung, karyawan usaha rumah tangga, aktifis sebuah organisasi di luar pesantren, bahkan mungkin tanpa sepengetahuan pengamatan penulis, mungkin pula ada yang mencoba menekuni ilmu kanuragan. Tumpukan kesibukan yang demikian padat, sama sekali tak pernah abai dengan untuk selalu aktif berjibaku menggeluti kitab-kitab khazanah klasik yang isinya sarat makna kehidupan.

Tempaan hidup yang demikian aneka ragamnya ini, menjadikan santri al-Ishlah tidak hanya duduk manis pandai mengaji, melainkan pandai berbisnis untuk mengais rizki, tidak saja menebarkan hawa dama dalam pesona dakwah, tetapi mahir pula berorganisasi dan mengelolah sebuah usaha, sungguh pesona al-ishlah sangat luar biasa. Namun apakah saat ini masih demikian..??, jawabnya pasti, ‘masih’ dan akan terus bergeliat mencari maknanya sendiri dengan segala keunikan yang melekat padanya. Tentu dalam kemasan yang berbeda dengan sebelum-sebelumnya.

Perlu segera dicatat, bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhinya; pertama, minat santri dari hati nuraninya yang tertanam sejak sebelum berangkat untuk bermukim menempa ilmu pengetahuan agama, panggilan suci dari dalam hati seorang santri mengokohkan niatnya, sehingga semangatnya terus berkobar dan seolah tak kenal lelah memanggul kita kesana kemari.

Kedua, serangan gaya hidup hedonis pada masa itu masih dalam taraf biasa-biasa saja, handphone jarang yang punya, akun medsos tidak kenal, mendengar e-mail sudah nampak orang keren, akses internet masih terbatas untuk segelintir orang saja, tidak marak seperti saat ini, tanpa nasab dan asal usul google sudah diakui sebagai mbah-nya, bahkan mungkin pada era tahun 90-an masih belum dikenal ‘hewan apa’ twitter, facebook, instagram, vine, Caoffemom dan media sosial lainnya yang konon sudah mencapai 125 jenisnya. Ketiga, dorongan orang sangat tinggi dalam mengarahkan putra-putrinya untuk menekuni pendidikan sebagai bekal kehidupan di masa depannya, tidak seperti saat ini, di mana mayoritas keberhasilan dinilai dari sedikit banyaknya kapital yang berhasil ia kantongi. Sudaut pandang materialistis seperti ini tentu tidak berlaku semua orang, namun melihat indikasinya jumlahnya terus meningkat.

Jika setuju dengan faktor di atas, maka pembenahan membuatuhkan kerja ekstra yang tidak ringan, mengajak masyarakat kembali back to pesantren menjadi jargon yang sangat penting, dengan memberikan banyak pemahaman, bahwa pesantren bukan ladang pemalas apalagi teroris, tetapi pesantren adalah sumber investasi pendidikan yang subur menumbuh kembangkan karakter dan minat anak didik mencari bakat dan menemukan potensi dirinya yang sudah given dari sang maha Pencipta.

Satu hal yang tidak boleh dilewatkan adalah, internet sebagai sumber informasi tercepat yang harus dikendalikan dengan iman dan taqwa, karena ‘di sana’ bagaikan lautan lepas yang bebas tanpa batas dalam mengakses informasi dari yang wajar sampai yang kurang ajar, membangun dan merusak, yang konstruktif maupun yang destruktif, semua lengkap, yang mampu mengendalikan adalah emosi dan spiritulitas yang diwakili dengan sentuhan jari terampil para penggunanya. Akhirnya hanya pesantren menjadi alternatif jiru sebagai salah satu tempat berlabuh menenmpa dan mengendalikan nafsu, serta memperkaya modal emosi positif dan spirtualitas. Tak cukup rasanya merangkai kata untuk pesona al-Ishlah.

M. Wiyono
Alumni Pesantren Al-Ishlah,
Bungah-Gresik-Jawa Timur
Tinggal dipinggiran Jakarta