Selamat Datang Bulan Istimewa

Tak terasa perjalanan hari yang mengalir secara pelan akhirnya sampai pula di penghujung penantian bulan mulia yaitu bulan suci Ramadhan, bulan ampunan dan bulan penuh rahmat. Bulan Ramadhan adalah satu-satunya bulan hijriyah yang namanya disebut di dalam al Qur’an (QS. 2:185). Penyebutannya ini mengisyaratkan betapa mulianya bulan tersebut, didalamnya selama sebulan penuh orang mu’min diperintahkan untuk melaksanakan ibadah puasa wajib (QS. 2:183).

menyambut ramadhan

Ramadhan itu sendiri berarti pembakaran, bulan pembakaran dosa atau bulan ampunan (syahrul ghufran). Diharapakan momentum berharga seperti Ramadhan dipergunakan semaksimal mungkin untuk menggapai kesucian diri dari dosa yang pernah dilakukan, maka tak heran bila beredar ungkapan yang menggambarkan bulan ramadhan dengan ungkapan bulan suci ramadhan. Pendek kata bulan Ramadhan adalah bulan istimewa berlimpah kemulyaan di dalamnya, pahala dilipatgandakan, amal sunnat ‘dihargai’ seperti wajib, juga terdapat satu malam yang keutamaannya melebihi seribu bulan.

Di bulan yang istimewa tersebut diwajibkan ibadah yang istimewa pula berupa puasa, puasa merupakan ibadah yang sangat rahasia, hanya Allah dan personal pelakunya yang mengetahuinya berbeda dengan ibadah lainnya seperti sholat, zakat atau haji. Bila sholat adalah ibadah yang menitik beratkan dialog antara hamba dengan Tuhannya, Zakat adalah dialog sosial dengan sesama sedang haji adalah diaolg dengan historis-religiusnya, maka puasa adalah ibadah yang lebih menitik beratkan dialog spiritual dengan internal dirinya, karena itu tidak dijumpai berapa besar pahala ibadah puasa, hanya Allah yang mengetahuinya, sebagaimana termaktub di dalam hadits qudsi
يقول الله عزوجل إنما يذر سهوته و طعامه وشرابه لأجلى و أنا أجزى به
Rasulullah bersabda, Allah berfirman: sesungguhnya anak adam meninggalkan syahwatnya dan makanannya serta minumannya karena aku, dan aku sendiri yang akan membalasnya

Kualitas Ibadah puasa (shaum) tidak hanya dinilai dari durasi waktunya dari segi kemampuannya menahan makan dan minum atau berhubungan badan suami-isteri, tetapi kualitas ibadah puasa itu sendiri dinilai dari kemampuan seseorang dalam mengendalikan, panca indera, hati dan pikirannya. Sebagai bulan ‘pelatihan’ pembekalan untuk menggapai fithrah sepanjang sebelas bulan setelahnya. Semoga bulan Ramadhan yang akan datang ini mempu menggeser maju kepada kita semua menjadi prbadi yang istimewa pula. amiiin
***
Penulis: M. Wiyono, adalah seorang yang aktif di dunia pendidikan juga aktif dalam menulis baik itu di blog ataupun di media lainnya. Tulisan ini mungkin tak sehebat artikel pembaca yang budiman, tetapi karena sudah kadung di daulat menyumbangkan tulisan di web ini dimana dua hari yang beberapa baru develop oleh sahabat kita Pak Fauzi Wong pemilik wongmultimedia.com, rela maupun terpaksa ya harus mau. Ssstt.. karena dia galak, dari pada diomeli di Grup WA qiqiqiqi.

M. Wiyono
Alumni Pesantren Al-Ishlah,
Bungah-Gresik-Jawa Timur
Tinggal dipinggiran Jakarta